Laman

Membuat Garis Keturunan Sendiri

Rabu, 11 April 2012

Memijahkan Cupang sangat menyenangkan, apalagi kalau hasil persilangan ikan cupang sesuai dengan harapan. Tetapi hal itu tidak mudah. Selain tidak mudah karena tidak semuanya bentuk dan warna menurun pada anakan, proses pemijahan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Masih ingat hukum mendel I dan Mendel II tentang proses persilangan??? Pelajaran Biologi SMU. Masih kan? Tidak mudah bukan.
Tapi kalau ingin mendapatkan keturunan yang sesuai dengan keinginan kuncinya mudah, sabar dan tercatat Pasti hasilnya akan sesuai dengan harapan anda, sesuai dengan garis keturunan yang diinginkan.
Berkait dengan teori Mendel dapat anda cari infonya di Google. Sedangkan secara sederhana saya hanya ingin memperlihatkan proses membuat garis keturunan sendiri, seperti dibawah ini.

Misalnya kita menggunakan Cupang Giant Plakat

F1 -Giant Jantan
F1 VS Betina lain (boleh pakai betina biasa) ( Tahap I cross breeding ke 1 ). Hasilnya F2
F1 VS Betina Anak F1 ( Tahap II inbreeding-cari dari anakan yang  besar). Hasilnya F3
F1 VS Betina Cucu F1 ( Tahap III line breeding-anakan betina besar). Hasilnya F4 --> super breeder

F4 ini kita silangkan dengan betina yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali (sebaiknya pakai cupang giant betina lain). Hal ini untuk menimbulkan kembali vitalitas dan stamina yang tidak kita temukan pada hasil di F3 dan F4.
F4 VS betina Lain ( Tahap IV cross breeding ke 2 ). Hasilnya F5 --> super fighter.

Proses ini membutuhkan paling tidak 2 tahun. coba bayangkan umur induk minimal 4 bulan dikawinkan sampai 5 kali, itu saja belum kalau induk pertama mati....???

Jika induk pertama mati anda bisa kawinkan anakan pertama (F1) dengan anakan pertama (F1), atau anakan kedua (F2)

Kalau salah mohon dibetulkan kawan......


READ MORE - Membuat Garis Keturunan Sendiri

TANDA-TANDA IKAN TERSERANG PENYAKIT

Selasa, 20 Maret 2012

Apakah ikan cupang kesayangan anda mulai tidak doyan makan? atau tidak lincah bergerak? Jangan-jangan ikan cupang kesayangan anda sedang terserang penyakit. Jangan panik, jika anda tahu tanda-tandanya, anda akan tahu bagaimana menanganinya. Dibawah ini saya ingin mengajak anda untuk mengenali tanda-tanda ikan terserang penyakit. 

  1. Nafas berat  - gejala umum 
  2. Tidak mau makan – gejala umum
  3. Warna Memudar – stress atau plistophora. Atau penyakit lainnya.
  4. Terdapat Benjolan pada Tubuh – kanker
  5.  Badan menggembung (terutama di daerah perut) – sisik nanas, kelebihan makan atau sembelit
  6. Sirip yang kasar – sirip membusuk atau dirusak oleh ikan lain
  7. Nafas terengah-engah (di permukaan air) – kekurangan oksigen, kualitas air yang buruk, insang menjadi pipih
  8. Sirip lengket – gejala umum
  9. Tidak aktif (bagi ikan yang biasanya bergerak aktif) – gejala umum
  10. Ekor yang berserabut dan berwarna pucat – parasite internal
  11. Badan seperti benang wol – jamur
  12. Badan berbintik-bintik (bukan pola warna yang normal) – penyakit bintik hitam atau putih, tergantung warnanya.
  13. Mata berkabut – infeksi bakteri atau kualitas air yang buruk
  14. Perut cekung – parasite internal atau bakteri (hati-hati, kemungkinan TB ikan)
  15. Mata bengkak – mata meletus
  16. Lubang pada ikan – lubang di kepala
  17. Insang memerah (terbakar) – keracunan amoniak atau menipisnya insang
  18. Bercak merah – infeksi bakteri eksternal
  19. Benang putih yang keluar dari tubuh ikan – cacing parasitic
  20. Berenang dengan tidak teratur – kemungkinan plistophora tahap akhir
  21. Sisik seperti  buah pinus (jika dilihat dari atas) – sisik nanas
  22. Berenang terbalik (kecuali pada ikan jenis lele yang synodontic) – penyakit kandung kemih atau luka dalam.
  23. Berusaha untuk tetap terapung – penyakit kandung kemih.
  24. Menggaruk permukaan – biasanya diikuti dengan gejala bercak, disebabkan oleh parasite eksternal
  25. Insang menggembung – penyakit insang
  26. Diselimuti debu – beludru 
READ MORE - TANDA-TANDA IKAN TERSERANG PENYAKIT

Mengenal Cupang Alam Akarensis

Minggu, 04 Maret 2012

Cupang Akarensis adalah ikan cupang yang istimewa, sebab ikan ini tidak hanya bisa dipelihara secara soliter, tetapi juga bisa dipelihara secara berpasangan atau didalam wadah besar dengan ikan lain. Jika di pelihara di wadah yang besar bersama dengan ikan lainnya, wadah yang digunakan harus didekorasi sesuai dengan alamnya. Diberi tanaman air, tempat-tempat untuk bersembunyi, dsb. Yang perlu diperhatikan ketika memelihara cupang akarensis anda harus menguasahakan agar air berada pada suhu 21 derajat celcius atau 70 Fahrenheit.
Ikan cupang Akarensis jantan berwarna terang, mempunyai sirip punggung dan ekor yang lancip, sedangkan cupang betina siripnya lebih bulat. Sistem reproduksi ikan ini sama dengan jenis cupang lainnya, telurnya akan dierami didalam mulut ikan jantan dan dikeluarkan ketika sudah menetas. Identifikasi ikan ini menggunakan garis-garis wajah yang beragam, dan semua anggota akarensis termasuk dalam satu spesies saja.
Ikan Cupang Akarensis ditemukan di perairan beberapa negara Asia seperti Brunei Darusalam, Indonesia dan Malaysia.
READ MORE - Mengenal Cupang Alam Akarensis

Pakan Cupang dan Kandungan Gizinya

Rabu, 15 Februari 2012

Dari berbagai sumber, coba kami ulas secara ringkas ragam pakan cupang berikut keterangan kandungan gizinya:

Jentik Nyamuk, atau disebut juga dengan ‘cuk’
Protein 15.58% (protein kering 48.96%), kelembaban 68.18%, lemak 7.81%, serat 3.46%, abu 1.4%

Cacing Darah, sering ditulis dalam kemasan dengan Blood Worm
Protein 10.5% (protein kering 69%), kelembaban 84.8%, lemak 2%, abu 7%

Cacing Rambut, disebut juga cacing sutera
Protein 48%, kelembapan = tdk diketahui, Lemak 21%, glikogen 7%, lemak asam organik 1%, asam nucleic 1 %

Daphnia, lebih dikenal sebagai kutu air
Protein 5% (protein kering 45.45%), kelembapan 89%, lemak 5%, abu 9%

Artemia, di dunia hobiis internasional disebut juga brine shrimp, karena ia tergolong dalam keluarga udang renik
Protein 9 % (protein kering 75%), kelembapan 88%, lemak 2.5 %, serat 3%, abu 6%.


READ MORE - Pakan Cupang dan Kandungan Gizinya

An historic overview: The development of Betta Splendens tail forms

In 1849 Theodor Cantor published an article about a fighting fish that he called Macropodus pugnax [1, 2]. In 1909 C. Tate Regan realized that Cantor made a mistake and that pugnax already was an excisting related species. Regan renamed Cantor's fighting fish to the now common familiar name Betta splendens.

All the now so common known breeding forms of Betta splendens were derived from the short-finned (plakat) wildtype. For ages the short-finned form was held by the people in Thailand. The Thai bred fighters from wild caught bettas. Their main objectives were to develop its fighting nature, hardiness, size, fighting style and color. Selection of breeders was made by organizing fights with bettas from other breeders. The winner became the model for the next generation of fighters.

Because natural selection was not present here, after many generations bettas arose with a slightly longer dorsal and caudal fins. These fish didn't have the desired "fighting spirit" because they were less aggressive and couldn't manoeuvre as fast than their short-finned cousins. This betta with longer fins was now only bred for their beauty. Probably this form was already established when the Europeans and Americans came to South-East Asia in great numbers (1850). Around 1960 breeders from India succeeded to breed a bettas with to tailfins, the so-called doubletails. A typical characteristic of these fish is the extreme broad dorsal fin and the slightly shorter body length. Probably they wanted to loose this last characteristic by crossing doubletails with normal single tail bettas. The breeders noticed the offspring of these spawns had an improved form of the dorsal and caudal fins.

Slowly the aquariumhobby became more beloved in Europe and America. Asia responded to this by large-scale breeding of the longer-finned Betta splendens in big breeding-farms. Now hobbyists in Europe and America started to select these fishes in order to obtain certain characteritics in their fish. In 1960 an American breeder, Warren Young, succeeded to breed a betta with extreme long fins. Young called these bettas "Libby-bettas" after his wife Libby. These fish were sold to hobbyists all across the world and to the farms in Asia. It was this development that led to the now so familiar veiltail tailtype.

Around the same time a German breeder, Dr. Eduard Schmidt-Focke, bred the first deltatail betta. A betta with a symmetrical triangular tail shape. In 1967 in America the IBC (International Betta Congres) was founded. The IBC had the goal to breed Betta splendens with broad symmetrical fins instead of long. This resulted in fish with a better swim capacity. But still it took a long time before the other now so familiar tailtypes were developed. In 1980 some wellknown American betta breeders, like Peter Göettner and Paris Jones, developed the superdelta tailtype which were bettas with enormous fins. In 1984, the Frenchman Guy Delaval imported offspring of these fishes to France. Delaval selected and bred these to obtain a bigger angle of the caudal. In 1987 he succeeded to breed fishes with a 180 degrees angle. Rajiv Massilamoni realized that Deleval did what was thought to be impossible. Till that time most Betta splendens were asymmetrical deltas or superdeltas with a maximal spread of 160 degrees. Laurent Chenot and Rajiv Massilamoni started to cooperate in order to maintain this tailtype. They tried to breed these fishes but they were to much inbred. The male didn't make a nest anymore and didn't know how to wrap himself around the female. After many attempts they with petstore Betta splendens and different lines, Chenot and Massilamoni eventually succeeded to breed a fish which had a mother from Delaval and the father was a melano doubletail male from a American line. This fish was called R39, and was coupled to all the females in the lines of Chenot and Massilamoni. Again some fish showed up with the 180 degree spread. In 1991 the American betta breeder, Jeff Wilson saw these fishes an he called them "halfmoons". He started cooperating with Chenot and Massilamoni and the inbreeding of the American line led more frequent halfmoon appearance in the offspring. In 1993, Chenot, Massilamoni and Wilson showed on of their halfmoon fishes at the IBC show in Tampa Florida under the name CHENMASWIL. They won the "Best of show". This was the start of a true halfmoon fever.

The last 5-10 years another type of tail was developed. An Indonesian breeder, Ahmad Yusuf, developed the crowntail. Here the rays extended to outside the edges of the fin. This is why the fins get a "comb-like"appearance (is also called the combtail treat).

But the developments of the different tailtypes are still going on. People all across the world are still trying to develop halfmoons and crowntails with a better spreading and tailform. In the halfmoon breeding this already led to the development of halfmoon fish with a different ray-splitting (4-, 8- and 16-ray halfmoons). The better the ray-splitting, the better the tail is supported during the spreading. This support is especially important when the fish become older and their fins become longer. Other new developments in halfmoon breeding are the overhalfmoons, which have a spreading which is bigger than 180 degrees, and the rosetail halfmoon.

Also in the crowntail breeding this led to different variants with a different amount of rays which influences the number of the extentions (single, double, triple and double-double ray CT) but also influences the support and spreading of the tail.

By: Joep van Esch


READ MORE - An historic overview: The development of Betta Splendens tail forms

Plakat

Selasa, 07 Februari 2012

Yellow Dragon Male

Green Plakat

 Dragon Giant Plakat
READ MORE - Plakat

Sejarah Cupang Giant

Senin, 06 Februari 2012

Tahun 1999 pertama kalinya ikan cupang Giant dikembangbiakkan oleh seorang breeder Thailand bernama Mr Athapon (Uncle Sala) dan anaknya Mr. Natee, pemilik Diamond Fish Farm. Mereka mendapatkan seekor cupang plakat dikolam kepunyaan mereka yang memiliki ukuran panjang 4 inchi (10cm) dan kemudian mengembangkan ikan cupang tersebut. 
Mereka mencari indukan betina yang besar dari sekitar 300 an kolam mereka untuk pasangan si cupang plakat raksasa yang mereka miliki. Dengan gigih mereka melakukan selektif breeding dengan menyilangkan cupang raksasa tersebut sehingga dicapai ukuran dan bentuk yang dikehendaki. Pada tahun 2001 Uncle Sala mulai memasarkan cupang raksasanya dan menamakannya Giant Betta. Setahun kemudian dikirimnya giant betta ini mengikuti kontes cupang internasional IBC di Amerika Serikat.  
Pada awalnya untuk mencapai ukuran 3 inchi (7.5 cm) dibutuhkan waktu 8-9 bulan namun sekarang untuk mencapai ukuran yang sama dapat dicapai hanya dalam waktu 5 bulan saja. Sementara sirip dan warna sudah berkembang semakin bervariasi sehingga didapat giant halfmoon, giant double tail, giant serit. Ukuran terbesar yang dapat ditemukan adalah 5 inchi (12.5 cm) pada giant berumur lebih dari 1 tahun.

READ MORE - Sejarah Cupang Giant

 
 
 

Pengikut